Beranda / Publik / Jepin dalam Lumuran Pupur: Riang Wajah Lintas Generasi

Jepin dalam Lumuran Pupur: Riang Wajah Lintas Generasi

Seorang sesepuh membaluri pupur pada mempelai pria
Sesepuh masyarakat adat memberikan simbol restu dengan melumurkan pupur ke wajah calon mempelai pria

DESA BEBATU –  Suara gemuruh gong dan petikan gambus memecah kesunyian malam di Desa Bebatu, Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, pada Jumat. Dengan penuh sukacita, warga desa yang memadati arena mengenakan busana Melayu yang anggun, siap merayakan sebuah perhelatan kebudayaan yang megah dan penuh makna Bepupur.

Bepupur merupakan salah satu tradisi luhur yang mencerminkan kekayaan serta keunikan identitas budaya suku Tidung. Bukan sekadar ritus perayaan perkawinan, Bepupur hadir sebagai sarana mempererat tali persaudaraan dan merawat solidaritas komunal antar-warga.

Suasana perayaan malam itu terasa hidup dan semarak. Kelompok pemusik lokal yang terdiri dari remaja hingga anak-anak memukau hadirin lewat kepiawaian mereka memainkan perpaduan alat musik pukul, petik, dan tekan.

Alunan dendang Melayu dan irama pesisir bergema memenuhi udara. Kegembiraan makin memuncak saat anak-anak hingga orang dewasa lintas gender melantai bersama, menarikan tarian khas dan gerakan tarian Jepin yang lincah.

Penggiat seni dan budaya Desa Bebatu, Irian, menjelaskan bahwa Bepupur mengandung makna filosofis sebagai simbol pertemuan spiritual dan sosial antara laki-laki dan perempuan menuju jenjang pernikahan.

“Tradisi ini tidak berhenti begitu saja saat akad nikah, melainkan berlangsung berlanjut hingga tiga malam berturut-turut,” bebernya.

 

Prosesinya melibatkan ritual mandi, pembaluran pupur (bedak dingin tradisional) oleh tokoh-tokoh yang dipilih, hingga perpindahan mempelai pria ke tempat calon pengantin perempuan untuk kembali dibaluri pupur oleh kaum perempuan,” terang Irian.

Sebelum prosesi utama dimulai, pemimpin acara memberikan instruksi kepada segenap hadirin. Mempelai pria, yang duduk bersimpuh dengan balutan kain berwarna hijau di bagian bawah tubuhnya, hadir di tengah-tengah masyarakat.

Para penabuh hadrah bertempo dinamis mengiringi tiap tahapan ritual, sementara para tetua dan tokoh masyarakat yang bijaksana secara bergantian mengusapkan pupur ke wajah dan tubuh calon pengantin.

Lantunan hadrah dan tarian Jepin menjadi bagian integral yang tak terpisahkan pada malam pertama Bepupur. Di dekat arena ritual, sebuah bungkusan kain kuning berisi gelas dan piring diletakkan sebagai simbol filosofis ketahanan rumah tangga, kesederhanaan, serta kebersamaan dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Usai prosesi pembaluran pupur selesai, panggung tarian Jepin kembali berlanjut hingga ditutup dengan doa dan makan bersama (saprahan).

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, suku Tidung di Kalimantan Utara tetap gigih merawat tradisi Bepupur sebagai identitas yang tak terpisahkan dari leluhur mereka.

Upaya pelestarian ini tidak hanya menjaga keberlanjutan kearifan lokal, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk memahami dan mencintai akar budayanya sendiri.

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *