TANJUNG SELOR – Selamat datang di ibu kota Provinsi Kalimantan Utara. Di balik sibuknya proyek infrastruktur dan gedung pemerintahan yang terus digenjot, ada realita yang menampar wajah pemerintah daerah.
Dua anak sekolah terekam kamera harus mendayung sampan kecil tanpa pelampung demi bisa sampai ke kelas. Sebuah atraksi bertahan hidup gratis, tepat di beranda pusat pemerintahan.
Lucu rasanya mendengar para pejabat rajin berpidato soal “pemerataan pembangunan” dan mencetak “generasi masa depan”, sementara tidak jauh dari mimbar mentereng mereka, pelajar masih harus adu otot dengan arus air. Akses pendidikan yang aman sepertinya cuma retorika yang berlaku di sekitar aspal mulus depan kantor dinas.
Ini bukan sekadar soal kurangnya perahu. Ini bukti nyata abainya negara terhadap keselamatan dan hak dasar warganya. Jangan dulu membusungkan dada memamerkan deretan mobil dinas baru atau fasilitas perkotaan.
“Apa gunanya status ibu kota provinsi kalau anak-anaknya masih harus bertaruh nyawa hanya untuk belajar membaca dan berhitung,”
Tolok ukur keberhasilan pembangunan itu tidak perlu muluk-muluk, cukup satu hal sederhana, apakah seorang anak bisa berangkat ke sekolah tanpa perlu khawatir hari ini dia akan tenggelam?
Jadi, ke mana larinya mata, telinga, dan anggaran Pemkab Bulungan?
Mungkin pemerintah terlalu sibuk merias “wajah” ibu kota sampai lupa menengok warganya di atas air. Silakan terus sibuk membangun proyek raksasa, biarkan saja anak-anak itu jadi atlet dayung dadakan demi selembar ijazah.


